Bagaimana Menulis Dalam Bahasa Tondano ?

12 March 2022 - KamusTondano.com - Artikel


Tulisan ini diharapkan dapat menjadi petunjuk sederhana tentang penulisan kata-kata dalam Bahasa Toudano dialek Tondano. Saat ini minat masyarakat Tondano untuk melestarikan bahasa sebagai pengenal identitas diri semakin tinggi. Tentunya kita harapkan bersama dapat tercipta satu penulisan baku Bahasa Toudano, secara khusus di sini dialek Tondano, yang dapat dipergunakan di dalam sistem pendidikan di sekolah-sekolah. Tujuan utama dari tulisan ini adalah memperkenalkan penulisan kata-kata menurut kaidah-kaidah penulisan bahasa.


Seperti kebanyakan bahasa-bahasa suku di Indonesia, Bahasa Toudano adalah juga bahasa yang merupakan bahasa lisan (tidak mempunyai sistem menulis). Beberapa ahli sejarah dan budaya memperkirakan bahwa awalnya masyarakat Minahasa mempunyai sistem aksara, namun kemudian pengetahuan itu dibekukan seiring dengan pergantian golongan pemerintah dari Makarua Siouw dan Makatelu Pitu ke Pasiouwan Telu. Penelitian-penelitian tentang keterkaitan aksara Minahasa dengan aksara Filipina sudah dan sedang dilakukan saat ini. Semoga nantinya bisa memberi titik terang tentang salah satu segi kebudayaan Minahasa yang sangat penting ini.


Oleh karena pengaruh Belanda maka bahasa-bahasa Minahasa ditulis dengan menggunakan huruf Latin, sama seperti penulisan Bahasa Indonesia.


Ada bunyi-bunyi tertentu dalam dialek Tondano yang perlu dibedakan dalam penulisannya karena dapat mempengaruhi arti kata. Misalnya bunyi [ é ] yakni yang disebut taleng dan perhentian udara (glotal/hamzah) [ ' ] .


Dalam ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, tidak dibedakan antara taleng [ é ] (seperti pada kata “meja”) dan pepet [ e ] (seperti pada kata “elang”), dan biasanya para pembaca tidak mempunyai banyak kesulitan dalam membedakan kapan [ e ] berbunyi taleng atau berbunyi pepet. Namun dalam penulisan dialek Tondano penulisan kedua bunyi ini perlu dibedakan karena dapat membedakan arti, misalnya pada kata téwél (terbang) dan tewel (tajam).


Beberapa kata dengan huruf [ é ] taleng:

kélang : jalan

pélang : lonjong

édo      : ambil


Beberapa kata dengan huruf [e] pepet:

edo      : hari; matahari

esa       : satu

weren   : mata

Demikian juga dengan penulisan tanda perhentian udara [’] yang disebut glottal atau hamzah. Tanda ini juga perlu diperhatikan dalam penulisan dialek Tondano karena dapat membedakan arti, misalnya: pa’a (paha) dan paa (loteng).


Tanda glottal ditulis ketika muncul pada kata dasar. Contoh:

sigha’ : pintar, tahu, ahli (kasigha’=sangat pintar/ahli)

tura’   : menusuk, menumbak (tura’en=tusuk, tumbak)

wera’ : melucu, membuat orang tertawa (wera’an=dibuat tertawa dengan cara melucu)

tu’a    : tua, berumur (tu’amou=sudah tua)

mena’ : tinggal, berhenti (mena’pé’la=berhenti saja dulu)

wua’   : buah (mawua’mou=sudah berbuah)

lué’    : air mata (palué'an=menitikan airmata)


Untuk mewakili bunyi vokal panjang, maka huruf vokal direduplikasi dan diucapkan tanpa perhentian udara:

laa   : pergi (bukan la'a)

wéé  : beri (bukan wé'é)

ruu   : sudut (bukan ru'u)

buuk: buku (bukan bu'uk)


Untuk vocal panjang dengan akhiran glotal

léé’ : leher (bukan lé'é')  

loo’ : lihat (bukan lo'o')

wii’ : bibir miring (bukan wi'i')



Untuk menulis kata ganti orang:

Tunggal:

niaku: saya

nikoo: kau

nisia: dia


Jamak:

nikéi: kami (ekslusif); Nikita: kita (inklusif)

nikou: kalian

niséa: mereka


“ni” tidak dipisah. Misalnya: ni sia (X)

Ketika “ni” berdiri sendiri, maka ia berfungsi sebagai penanda milik atau genetif. Misalnya: walé ni Empung (rumah Tuhan), punya ni makapunya (punya dari yang empunya)


Kata ganti milik melekat pada kata dasar.

Tunggal

-ku (em waléku = rumahku)

-mu (em walému = rumahmu)

-na (em waléna = rumahnya)


Jamak

-méi/-ta (em waléméi = rumah kami/em waléta = rumah kita)

-iu (em walémiu = rumah kalian)

-néa (em walénéa = rumah mereka)


Bahasa Toudano, sama seperti bahasa-bahasa Minahasa lainnya, menggunakan banyak awalan, sisipan dan akhiran. Ada begitu banyak jenis awalan, sisipan dan akhiran dalam Bahasa Toudano dan sebagai peraturan umum penulisan awalan, sisipan, dan akhiran melekat/menyatu pada kata dasar.


Berbagai imbuhan pada kata dasar “wingkung” (mencangkul)

AWALAN

mawingkung = sedang mencangkul

memingkung = pekerjaan mencangkul

kawingkung =  teman mencangkul

pawingkung = alat untuk mencangkul

mapawingkung = meminta orang lain untuk mencangkul

makiwingkung = meminta bantuan orang lain untuk mencangkul

papawingkung = suruh mencangkul

kapawingkung = cara mencangkul

iwingkung =  buat seseorang mencangkul

minawingkung(-i) = pernah mencangkul untuk seseorang

minapawingkung = pernah meminta orang lain untuk mencangkul

néiwingkung = digunakan untuk mencangkul

néipawingkung = dimintakan untuk dicangkul

néipapawingkung = dimintakan berulang-ulang untuk dicangkul

néimouwingkung = sudah dipakai untuk mencangkul

néitéwingkung ... = hanya digunakan untuk mencangkul ...

néimouipakiwingkung = sudah dimintakan untuk dicangkuli 

wewingkung = alat untuk mencangkul; cangkul


SISIPAN

winingkung(-kumou) = (sudah saya) cangkuli

-um- = ...


AKHIRAN

wingkungen = cangkuli

wingkungenou = sudah akan dicangkul

wingkungenokan = nanti akan dicangkul

wingkungla = cangkulkanlah 

wingkungené’la = cangkuli sajalah dulu


wingkungenola = cangkulah

wingkungenomaé = cangkulah saja secepatnya


GABUNGAN

papawingkungenomaé = mintalah saja dicangkul segera

minapawingkungokan = tinggal meminta orang lain untuk mencangkul

makiwingkunomaé = minta tolong untuk dincangkul saja

minakiwingkungou = sudah minta tolong untuk dicangkuli

néimouwingkungaé = sudah dipakai untuk mencangkul

néipawingkungi = dimintakan untuk dicangkul

winingkunganou = sudah dicangkuli

winingkungité = hanya dicangkuli

néitéwingkungela (witu) = hanya digunakan untuk mencangkul (di situ)

pinewingkungaé = pernah digunakan untuk mencangkul

dst.


(Font biru menandakan terjemahan Bahasa Indonesia masih perlu dicek dengan ahli bahasa)


Beberapa bunyi khusus dan penulisannya


Huruf [g] diucapkan [g] pada kata “garis” dan “gagah”

Contoh :

legu’ : bunyi

regak : muncul


Bunyi guttural [gh]

Contoh :

ghenang: pikiran, ingatan

ghio : wajah


Dalam bahasa Toudano, ada kata-kata tertentu yang diawali dengan huruf [r] dan bila didahului bunyi sengau [n] pengucapannya akan berbunyi sengau [d]. Penulisannya mengikuti kata dasar. Contoh:

Ditulis: en raa’ (darah) – dibaca e ndaa’

Ditulis: en rano (air) – dibaca e ndui (tulang)


Pada awalan pembentuk kata perintah [i] ditambah dengan kata dasar yang berawalan huruf vokal (a, u, i, e, o) akan terjadi bunyi luncuran [y].


iayat (angkat, hunus) dibaca 'iyayat'

iayo (sampaikan, ceritakan) dibaca 'iyayo'


Pada pertemuan huruf [n] dan [k] tercipta bunyi [ng].

Ditulis: 'alinkumokan' (nanti saya bawa) dibaca 'alingkumokan'


Pada pertemuan [ng] dan [l] terdapat bunyi sisipan [e]

misalnya ditulis: tumodongla ni'itu (setelah itu) dibaca tumodongela ni'itu.


Untuk kata yang diawali dengan huruf [w] dan didahului dengan partikel [em], pengucapannya akan berbunyi [b]. Penulisannya juga mengikuti kata dasar.


Secara berurutan

Ditulis: em walé (rumah) – dibaca: e mbalé

Ditulis: em wéné (padi, benih) – dibaca: em bené’

Ditulis: em wuter (berat) – dibaca: e mbuter



Mapéro-péroan wo malinga-lingaan. Sa wewéan en sélok, em butulenta mewali-wali.

(Saling menasihati dan saling mendengar satu dengan yang lain. Jikalau ada kesalahan, kita perbaiki bersama-sama).